Forces of Nature: A Dusty Valentine

WP_20140214_049

Friday, 14 February 2014. I was among the first to come and witness our lush green campus turn into velvety grey display. Grass and stones are monotone. Heavy ashes covering almost all visible surface. Not many people came to campus that day, all wearing face mask. Clearly, there would be no academic activity performed. I sighed. If it wasn’t because the next day would be student assessment day where I was in charge, I would prefer to stay at home. Shoveling the ashes off my roof before they collapsed from weight bearing.

That morning, the sun was nowhere to be found. Normally, the sun would have already rose high and shined. But instead, the sky was red and yellow. The air was choking. Roofs and streets were all covered in ashes. My eyes hurt and itchy. I looked up and realized that the sky was raining ashes. Continue reading

Revival *sementara?*

Saya baru sadar..Saya benar-benar telah menelantarkan blog ini lama sekali 😀

Sampai-sampai saya lupa bagaimana caranya mengedit tulisan via wordpress 😳 Bukan karena tidak mau lagi menulis. Seingat saya, saya tetap memiliki tulisan-tulisan mengenai pemikiran saya, hanya saja, saya simpan untuk konsumsi pribadi. Saya juga tidak beralih menjadi F*c*b***-noter hehe, halaman saya di jejaring sosial itu juga tidak segitu banyaknya terisi dengan tulisan.

read on >>>

Itu Bukan Suara Aku Kalee..!

Dalam dua hari terakhir ini, saya mendapat sebuah pertanyaan dari 4 orang yang berbeda. Sebuah pertanyaan yang dikemas dalam kalimat yang berbeda tapi intinya sama

Kok suara aku di rekaman sama ngomong langsung gini beda yak?

Yang biasanya dijawab lawan bicara dengan

Ah enggak, sama aja tuh..

Lalu mereka menoleh pada saya dengan mata yang berbinar-binar penuh harap.

Lalu saya ambil napas..

..saya tahan

..lalu mengejan sekuat tenaga! Yak! Bagus bu, bayinya perempuaan!

Plak!

Lalu saya ditempeleng karena ngelantur

Oke, sekarang beneran.

Ehm.. (dehem dulu biar kayak anggota DPR)

Begini teman-teman..

Ini adalah salah satu pertanyaan klasik mengenai tubuh kita. Fenomena “menyangkal suara sendiri” yang didengar melalui media perekam sebenarnya sudah sejak lama terjadi, jauh sebelum kasusnya Artalyta sama Jaksa Urip =B dan itu terjadi di mana-mana, di seluruh belahan dunia. Banyak ahli antropologi yang melaporkan tentang hal ini. Biasanya sih gara2 mereka bawa2 tape recorder ke berbagai belahan dunia untuk analisis-analisis linguistic mereka, nha pas mendengarkan ulang, mereka kaget aja gitu denger suara mereka sendiri di tape recorder.

dengerin woi!

dengerin woi!

Sebenarnya, ada penjelasan yang cukup sederhana untuk gejala aneh ini. Menurut Dr. Nelson Vaughan, seorang ahli terapi wicara, instruktur diksi dan pelatih suara di Hollywood, suara kita sendiri yang kita dengar saat bicara, bukan hanya didengar menggunakan telinga saja, tapi juga didengar “pancaran”-nya melalui organ2 dan cairan2 dalam tubuh kita. Jelasnya begini, suara terbentuk ketika ada udara dari paru-paru yang dihembuskan keluar dan menggetarkan pita suara di laring (tenggorokan). Dari sana, gelombang suara tersebut dikeluarkan lewat mulut dan dihantarkan pada telinga pendengarnya melalui UDARA. Inilah suara yang didengar oleh orang lain..dan juga yang ditangkap tape recorder. Telinga kita juga menangkap getaran suara tersebut, akan tetapi, kita juga menangkap getaran suara yang diteruskan melalui CAIRAN dan benda-benda PADAT lain dalam kepala kita, misalnya tulang tengkorak. Jadi, suara yang kita dengar sendiri tidak hanya dihantarkan oleh udara. Mulai dari laring aja udah banyak jaringan lunak yang dilewati, belum lagi di telinga. Asal tau aja, telinga kita itu terdiri dari 3 bagian: luar, tengah, dalam. Telinga luar tu mulai dari daun telinga sampai terowongan yang biasa dikurek2 itu. Telinga tengah tu isinya udara sama tulang2 pendengaran yang ukurannya super mini, sedangkan telinga dalam tu berisi cairan yang nyambung ke saraf pendengaran. Telinga tengah dan telinga dalam itu letaknya udah di dalam tengkorak, di ruangan2 gitu. Jadi perjalanan si bunyi dari laring sampe ke telinga sendiri udah melewati berbagai medium, padahal kan rambatan bunyi bakal berbeda kalau melalui medium yang berbeda, ya to? Makanya wajar aja kalo ada variasi nada yang didenger oleh si pembuat suara sama orang laen, gitu..

….

Jadi kalo gitu, sebenernya yang mana yang suara asli kita??

Ya dua-duanya! Wong sama2 kok asalnya..tergantung siapa pendengarnya kan?

Everybody should have his personal sounds to listen for – sounds that will make him exhilarated and alive or quite and calm…. One of the greatest sounds of them all – and to me it is a sound – is utter, complete silence.  ~Andre Kostelanetz

Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia

Sejak dicanangkannya Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) oleh Menkes Siti Fadillah Supari tahun 2006 lalu, telah banyak dilakukan berbagai kampanye CTPS. Public-Private Partnership for Handwashing with Soap (PPP-HWWS) atau KPS-CTPS yang terdiri dari Unilever (Lifebuoy), WSP, UNICEF, ESP, HSP, Aman Tirta, Reckitt Benckiser, dan beberapa badan internasional lainnya telah menetapkan tanggal 15 Oktober sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) yang akan dirayakan bersama oleh jutaan anak di 52 negara, di 5 benua, untuk mendukung dan mensukseskan Tahun Sanitasi Internasional 2008. Pengumuman penunjukan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia pada 15 Oktober dilakukan pada Pertemuan Tahunan Air Sedunia (Annual World Water Week) yang berlangsung pada 17-23 Agustus, 2008 di STockholm seiring dengan penunjukkan tahun 2008 sebagai Tahun Internasional Sanitasi oleh Rapat Umum PBB. Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia diharapkan akan memperbaiki praktek-praktek kesehatan pada umumnya dan perilaku sehat pada khususnya. Hal ini juga dilakukan untuk menarik perhatian dan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun.

Mengapa Cuci Tangan Pakai Sabun?

Kedengarannya sepele sekali ya? Tapi cuci tangan ternyata merupakan sebuah kunci penting dalam pencegahan penularan penyakit lho! Banyak sekali penyakit menular yang terjadi karena masalah  perilaku hidup bersih dan sehat yang rendah, salah satunya dalam hal mencuci tangan. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa perilaku mencuci tangan DENGAN SABUN dapat menurunkan tingkat kejadian dan penularan berbagai macam penyakit menular. Dari berbagai riset, risiko penularan penyakit dapat berkurang dengan adanya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku hygiene, seperti cuci tangan pakai sabun pada waktu penting. Menurut penelitian Fewtrell l, Kaufmann RB, et al, (2005) perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan  intervensi kesehatan yang paling murah dan efektif dibandingkan dengan hasil intervensi kesehatan dengan cara lainnya dalam mengurangi risiko penularan berbagai penyakit termasuk flu burung, kecacingan, influenza, hepatitis A, demam tifoid, dan  diare terutama pada bayi dan balita.

Dalam dunia kesehatan, bukan merupakan berita baru bahwa mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan–bahkan hanya tindakan menyentuh pasien–dapat menyelamatkan nyawa si pasien  dan petugas kesehatan dari infeksi nosokomial, lebih daripada yang bisa dilakukan oleh antibiotik. Bahkan untuk menekankan betapa pentngnya mencuci tangan dengan sabun, beberapa dosen saya di Fakultas Kedokteran UGM tidak akan meluluskan mahasiswanya dalam ujian praktek jika ia mencuci tangan dengan cara yang salah–apalagi jika ia lupa mencuci tangan. Bukan hanya tidak lulus, tapi juga bakal “dihadiahi” dengan ceramah panjang lebar dan ancaman2 mengerikan tentang tanggung jawab terhadap keselamatan pasien..Heuh, membayangkannya saja saya jadi merasa tidak nyaman.

Langkah dan Waktu yang Tepat Cuci Tangan Pakai Sabun

1.Basuh tangan Anda dengan air yang mengalir, cuci dengan sabun dan gosok kedua tangan selama 20 detik sampai muncul busa. Pastikan menggosok bagian di sela-sela jari, di bawah kuku dan punggung tangan.

2.Bilas tangan Anda dengan air mengalir selama 10 detik;

3.Keringkan tangan dengan menggunakan kain lap yang bersih dan kering.

Mencuci tangan dalam kehidupan sehari-hari terutama diperlukan pada waktu-waktu penting berikut ini :

1. Sebelum makan;
2. Sesudah buang air besar;
3. Sebelum memegang bayi;
4. Sesudah menceboki anak;
5. Sebelum menyiapkan makanan.

Nah,tunggu apa lagi? Ayo jadikan cuci tangan pakai sabun sebagai salah satu kebiasaan baik kita!

Handwashing With Soap Campaign

Bismillah..

Berteman dengan pandai besi, bisa kecipratan api..

Berteman dengan penjual minyak wangi, bisa ikutan wangi..

Berteman dengan penulis blog, bisa ketularan nge-blog!!

huhuhu..

Op terpengaruh temen2 yg pada bikin blog hikz..

Tapi gpp,dulu op juga pernah punya blog, tapi op udahin..

So..

Say hello to the new op’s blog :B