Pagi ini..

::Senin, 25 Agustus 2014::

Satu setengah tahun. Mungkin lebih sedikit atau kurang. Dalam kurun itu, aku sudah begitu terbiasa denganmu. Ah, tunggu dulu! Bukan, bukan “sudah terbiasa”. Sepertinya sejak awal aku memang langsung terbiasa denganmu. Tidak kuingat ada saat dimana aku merasa tidak nyaman denganmu. Aku tidak harus membiasakan diri terhadapmu. Tidak dulu, tidak sekarang.

Sekarang, yang harus kubiasakan justru ketiadaanmu.

Pagi ini tanganku meraih kursi kosong. Pagi yang kesekian kali. Dan keterbiasaanku padamu membuat kekosongan itu terasa sampai ke dada. Aku menghela nafas. Aku merindukanmu.

Dan keterbiasaanku padamu membuat kekosongan itu terasa sampai ke dada.

Baru sepekan. Tapi aku sudah begitu merindukanmu.
Aku rindu menyentuhmu. Melihat sesuatu dari sudut pandangmu. Rindu menciptakan kenangan bersamamu. Rona dan semu, penyok dan lebam denganmu. Lalu menengoknya dan membuat jadi lebih indah dengan bumbu basa-basi.

Hufh..kangen kamu

Banyak hal berubah dengan ketidakhadiranmu. Kamu riuh. Ribut mengingatkanku untuk melakukan banyak hal yang, meski kadang tidak kusukai, harus kulakukan. Hari ini kamu ada ini, jam itu mesti begitu, tenggat mendekat, tambahan tugas baru.. Hih, kamu memaksaku berlari. Kamu bahkan sering membangunkejutkan dan mencegah aku lelap, argh! Kamu tidak manusiawi.

Tapi aku suka.

Denganmu aku bisa merasa hangat. Saat kamu menyampaikan padaku salam kangen dari sahabat-sahabatku. Atau keisengan rekan kantor yang membuahkan tawa. Atau berita dan cerita yang membuatku ternganga. Berdebar kesal atau sesak gembira. Bukan sekali kamu tiba-tiba memberiku pengingat akan Tuhan ketika aku merepetkan keluhan padamu. Meski aku tahu itu bukan kata-katamu. Pih. Aku jadi makin kangen padamu.

Aku sedang bersiap kehilanganmu. Sejak saat itu, aku tahu aku harus siap.

Aku sedang bersiap kehilanganmu. Sejak saat itu, aku tahu aku harus siap. Kullu man ‘alaiha faan.. Segala di dunia ini adalah sementara. Kamu adalah sementara. Begitu juga dia. Aku harap kamu tidak keberatan aku mencari penggantimu. Aku butuh teman untuk mencapai tujuan. Tanpamu aku pincang, sedangkan kamu mungkin tidak akan pulang.

Jelas tidak sama antara dia dan kamu. Mereka berkata dia tak kalah darimu. Ya, dia hebat. Dia baik untukku. Tapi aku tidak akan bisa merasa padanya sebagaimana aku merasa padamu. Mungkin, harus kucari yang semirip mungkin denganmu. Tapi itu akan menghabiskan waktuku, energiku, dan segala aku. Jadi.. mungkin sebaiknya aku belajar terbiasa. Meski tidak seketika seperti saat bersamamu.

Aih..betapa tidak sabar aku memastikan kepulanganmu.
Atau kepergianmu.

Sampai jumpa.
Atau selamat tinggal.

Teruntuk: Lumput. Hemponku sayang yang sekarat akibat kecemplung kolam renang Banyumili, Minggu, 17 Agustus 2014 lalu. Ndang balio Lum…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s