Kejadian Malam Ini (Bagian II)

Part II **

Sial, sial, sial. Kenapa harus kalimat seperti itu. Dasar bocah sial. Gadis itu mengumpat dalam hati. Dia di kamar mandi sekarang. Habis pipis, mau wudhu. Anjing tetangga masih kadang menggonggong. Ayamnya sudah diam. Tukang satenya masih krincing-krincing di jalan. Ya sudah, wudhu saja. Keran sudah dinyalakan. Ih! Airnya dingin, bikin merinding. Merinding sampai tengkuk.

Sial. Ini gara-gara bocah itu.


Tengkuknya merinding lagi. Ah, cuma air, pikirnya. Atau angin. Bajunya minim, sedangkan kedua pintu kamarnya terbuka lebar. Biar saja, tidak ada yang melihat. Ada yang melihat pun, tidak ada yang bisa dilihat. Atau.. yang melihat adalah yang tidak terlihat.

Sial. Ini gara-gara bocah itu.

Gadis itu keluar dari kamar mandi menuju kamarnya. Kamarnya di lantai dua. Kamar mandinya juga. Selain dia, tidak ada siapa-siapa. Dia sempatkan melongok ke lantai bawah. Ke ruang tengah tempat biasa orangtuanya menonton televisi bersama adiknya. Mereka tidak di sana. Hanya televisi yang menyala dengan volume lirih. Dan gonggongan anjing tetangga. Dan suara krincing tukang sate.

Sudah ah, segera sholat saja, batinnya lagi. Tutup pintunya, angin dari selatan sudah mulai terlalu dingin. Biarkan sebelah utara saja yang dibuka. Dia lalu memposisikan dirinya menghadap ke arah kiblat, sedikit serong ke arah barat laut. Dia menggelar sajadahnya tepat di sebelah pintu selatan. Hanya ada celah sempit antara dia dan dinding di belakangnya. Aku harus berhati-hati agar tidak  nyundhul nih, pikirnya.

Allahuakbar. Raka’at pertama. Anjing tetangga sudah diam. Jadi sepi. Untung masih ada tukang sate, pikirnya. Sate ayam. Biasanya yang borong anak kos depan rumah. Daerah tempat tinggalnya kini memang banyak anak kos. Banyak pendatang yang rata-rata anak kuliahan.  Beda dengan tempat tinggalnya waktu kecil dulu. Kebanyakan penduduk asli yang pada bikin usaha rumahan. Yang pada buta huruf, tapi penuh rasa kekeluargaan. Ada Mak’e yang buka warung di belakang rumah. Anaknya empat, perempuan semua. Ada Mas Pardi, tukang becak yang sering disuruh ibunya menjemput di TK. Tapi dia lebih suka pulang jalan kaki sama teman-temannya. Tukang becaknya ditinggal. Lalu ada juga Mbah Pudjo yang suka bercerita. Cerita tentang siluman yang suka menculik anak-anak lalu dibuat sate. Siluman tukang sate. Pake krincingan.

Astaghfirullah. Pikirannya mencoba kembali fokus. Raka’at berapa ya? Kedua. Sepertinya. Dia ruku’, lalu bersujud. Tukang satenya masih krincing-krincing. Anak kosnya belum keluar. Gadis itu berkedip gugup. Tenang, tenang. Itu cerita masa kecil. Mana ada siluman tukang sate.

Masih krincing-krincing. Anak kosnya belum keluar. Oh ayolah! Tenang, tenang.. mana ada yang begituan. Itu cuma cerita, masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Ayo, yakinkan dirimu, pikirnya. Gadis itu duduk di antara dua sujud.

Krincing. Masuk telinga kiri.

Krincing. Keluar telinga kanan.

Krincing. Terdengar dari belakang.

Eh?

Belakangnya kan..dinding. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Allahuakbar. Laaillahaillallaaahh.. Jantungnya melompat-lompat. Bibirnya tak lagi membaca bacaan sholat dengan benar. Bulu kuduknya meremang. Gadis itu membeku dalam sujudnya. Tak berani mengangkat kepala.

Krincing. Dari belakang. Kok dekat? Krincingg. Degdegdeg. Jantungnya bagai tak berirama. KRINCING. Kok makin dekat? Degdegdegdegdegdeg. KRINCINGGG. Dia memaksakan diri bangkit dari sujud. Lalu dia melihatnya!

Sepasang mata kuning beradu tepet dengan matanya. Tepat di hadapannya. Gadis itu terdiam kaku. Tatapan tajam menusuk dari mata itu membuat jantungnya serasa pindah ke jempol kaki. Lalu mata itu berkedip.

Meong~

Fuuhh.. gadis itu melemas. Ternyata kucing tetangga. Entah tetangga yang mana, yang jelas dia mengenali. Itu kucing yang sering datang ke rumahnya. Hanya saja, biasanya tanpa krincing di leher. Lumayan, membantu menakuti tikus di rumah.

Gadis itu menghembuskan nafas lagi. Sudah menatapnya, kucing itu enak saja lanjut melenggang ke utara. Berlawanan dari arah masuknya. Keluar dari kamarnya. Haduh, sholatnya jadi nggak berguna. Entahlah sudah raka’at berapa tadi. Dia sudah merasa lebih tenang sekarang. Gadis itu berdiri, berniat mengulang sholatnya. Dia kembali menata posisinya terhadap dinding dan pintu yang tertutup.

Allahuakbar. Raka’at pertama. Eh tunggu. Dinding dan pintu yang tertutup? Lalu.. kucing tadi masuk dari mana?

Deg. Krincinggg..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s