K3M Chronicles *Minggu Ketiga*

Banyaknya cerita K3M yang belum sempet op tulis. Tiba2 aja dah separo jalan..

Sore ini, op sama owi pergi berdua menjelajah desa tetangga. Mau kunjungan rumah ke pasien..biasa lah, tugas. Berangkat dari pondokan naik Shogun item op. Udah jam setengah lima tuh, padahal rencana jalan jam tiga, tapi op sama owi-partner op, ciee-malah ketiduran T.T yasudah. Berangkat dari pondokan udah rapi, wangi abis mandi, dan semangat 45 mbawa semua alat tempur yang kira2 bakal berguna-stetoskop, pen light, tensimeter buat mriksa, mantel ponco buat jaga2 kalo ujan, sama tas plastik buat jaga2 kalo suguhannya gak abis nanti.

Dengan mantap kami menyusuri jalan aspal yang diapit sawah di kanan kiri. Jalannya gak alus2 amat, tapi datar. Apalagi, udara sore yang seger bikin kami makin semangat mengunjungi rumah pasien kami. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu-sekitar 5 menit =B -akhirnya tibalah kami di sebuah warung, kami pun  berhenti. Bukan, bukan seperti pengembara yang berhenti karena kehausan, bukan juga karena kami telah sampai di tujuan, tapi karena..kami nyasar T.T Maklum, sebelumnya kami lupa gak nanya detail alamat pasien kami tersebut, padahal taulah..alamat di desa, gak ada urutan yang jelas. Maka, jadilah kami berputar-putar. Bahkan setelah si empunya warung ngasi tau jalan yang harus kami ambil pun, kami tetep aja bingung, karena kata2 yang bisa kami tangkap hanyalah “jalan naik..gapura..gardu..kuburan..tanya lagi..kanan..kiri..” selebihnya berupa rentetan suara cempreng yang diteriakkan tepat di depan muka kami *piss bu..*.

Ketika akhirnya kami berhasil melepaskan diri dari ibu pemilik warung, hari sudah semakin sore. Burung-burung mulai terbang kembali ke sarangnya, kami pun sudah kembali terbang di atas motor Shogun hitam. Kali ini jalanan menanjak. Di kanan kiri tampak tanah kapur berwarna kuning dengan pohon-pohon jati yang meranggas tersebar di beberapa petak tanah. Rumah-rumah penduduk terletak saling berjauhan satu sama lain. Beberapa sudah dibangun dengan tembok yang bagus, namun banyak juga yang masih berdinding anyaman bambu. Dan sementara itu, bayang-bayang senja mulai turun menyelimuti desa *ceh, bahasanya*. Batu-batu kapur besar dan ilalang kering membuat kami agak merinding, tapi karena tekad sudah bulat, apapun diembat.

Tidak berapa lama, kami menemukan gardu poskamling beratap merah yang dimaksud si ibu *kira2 sebenernya*, berarti kami sampai di tujuan. Kami ketok pintu rumah di belakang gardu, bukan di gardunya, karena pasien kami tinggalnya di rumah belakang gardu, bukan di gardunya *halah*. Muncul seorang lelaki separuh buaya eh, separuh baya, dengan raut wajah bertanya-tanya padahal kami baru mau tanya.

“Permisi pak, betul ini rumah bapak M. S?” tanya op sopan *ehm..berusaha sopan lebih tepatnya*.

Si bapak mengangguk. Masi dengan raut bertanya-tanya. Jadi op tanya lagi “Apa betul bapak punya putra bernama P yang sekolah di SD C?”

Alis si bapak berkerut. Kali ini dia menggeleng. Tapi masih dengan raut bertanya-tanya. Jadi op tanya lagi “..kalau cucu..?”

Si bapak menggeleng lagi. Raut mukanya makin bertanya-tanya, tapi bapaknya tetep gak nanya apa-apa.

Kali ini alis op yang berkerut. Dan raut muka op yang bertanya-tanya. Jadi ganti si bapak yang tanya “Mbaknya siapa ya?”

Gubrak! Oiya, kami lupa belum memperkenalkan diri.. pantes aja bapaknya bingung. Tapi ternyata, setelah kami memperkenalkan diri pun, bapaknya tetep gak punya anak atau cucu yang kami maksud tadi. Jadi kami merasa agak sia-sia memperkenalkan diri *loh?*. Yah, intinya : rumah yang kami datangi ini bener punya bapak MS, tapi bukan bapak MS yang kami maksud. Jadi kami pun undur diri. Sambil dalam hati ndongkol dan nggerundel pada bapaknya. Kok ya gak punya anak ato cucu yang kami cari!

Sedikit patah arang, tapi kami sambung lagi. Mungkin kami salah catat alamat. Dalam catetan kami tertulis DUSUN IV, tapi siapa tau yang bener DUSUN VI. Jadi kami pun melayang ke dusun sebelah. Dengan penuh semangat, motor kami pacu, sementara itu langit udah makin gelap. Kami mulai ngerasa agak gak nyaman. Sebelum berangkat tadi kami udah sepakat, begitu magrib kami udah harus pamitan. Soalnya daerah yang kami tuju emang agak ‘rawan’. Kami bener-bener salah perhitungan.

Di tengah perjalanan, kami ketemu sama seorang bapak yang lagi momong anak kecil. Kami berhenti untuk nanya. Sambil setengah berharap itu adalah bapak MS dan dek P yang kami cari *Haha, gak mungkin*. Berdasarkan penuturan si bapak, kami sudah memasuki kawasan dusun VI yang kami tuju.

Dan ternyata, beliau adalah bapak MS yang kami cari!!

….

Bukan, yang terakhir itu khayalan -.-“

Tapi setidaknya, kami sudah memasuki dusun yang benar. Sayangnya, si bapak gak tau yang namanya bapak MS. Yasudah, kami mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanan. Di sebuah pertigaan, kami ragu-ragu, mo terus apa balik. Udah gelap sekarang, dan kami belum solat magrib. Lalu seorang pemuda lewat dan ngeliat kami kebingungan. Kami agak takut, muka masnya agak gimana gitu soalnya. Mana tau2 dia dateng nyamperin kami lagi!

“Nyasar ya mbak? Hehe..” ternyata giginya ompong depan.

Kami Cuma bisa nelen ludah. Cleguk.

“Nyari rumah siapa sih? Kok dari tadi celingukan.”, tanyanya lagi.

Akhirnya owi yang ngomong, “anu mas..kami nyari rumah bapak MS, dusun VI. Dimana ya?”

“oohh..mas MS..”, katanya sambil manggut-mangut, “..kalo dia sih rumahnya jalan ini naik teruuuuuss..ada belokan naik teruuuss..sampe ataaas..ada pertigaan ke kanan. Nha udah, di sekitar situ tanya aja”. Dia nyengir lagi. Ompongnya ada dua.

Kami berterima kasih lalu cepet2 pergi. Balik ke pondokan. Lanjutin besok lagi. Masnya dadah dadah..

Hufh..setidaknya masih ada harapan menemukan cinta yang hilang, halah, maksudnya harapan menemukan rumah bapak MS yang sebenarnya. Semangat kami belum padam. Merdeka!!

Siang berikutnya, abis dari puskesmas, kami langsung tancap gas ke pertigaan yang kemaren. Terus ngikuti jalan sesuai petunjuk mas-mas itu. Jalanan makin nanjak, untungnya udah aspal. Motor Shogun op menderu-deru berusaha menaklukkan gunung kapur itu, membawa dua beban di punggungnya. Kami masih tetap dengan peralatan perang kami dan semangat tempur kami. Di depan mata hanya tampak jalan aspal yang mendaki. Lalu tiba-tiba, pandangan kami bebas. Kami sudah mencapai puncak. Berarti sedikit lagi.. kami mulai mencari2 orang untuk ditanyai. Lalu tampaklah sebuah gardu poskamling. Atapnya merah.

Loh loh loh!! Itu kan gardu yang kemaren! Pemandangan di sekitarnya juga yang kemaren, rumah-rumahnya juga yang kemaren! Bedanya sekarang siang. Loh piye to?! Op berpandang2an sama owi. Tapi gak mesra. Otak kami berputar. Keterangan demi keterangan menyambung, peta geografis daerah sekitar pun terhubung.

Glondhang!!

Kami pun paham. Ternyata kami hanya memutari gunung yang sama. Orang yang dimaksud pun orang yang sama. Hanya saja, jalan yang kami tempuh berbeda. Oh noooo… seketika asa kami menguap. Pupus sudah harapan kami. Kami terduduk lemas, gondok banget rasanya. Tapi geli juga. Kok ya bisa.. Kami cuman bisa ngikik2 gak jelas gitu aja berdua. Yaudah akhirnya kami nyerah, kami pulang, tanpa dendam *lha malah nyanyi*. Perlahan2 kami naiki kembali Shogun hitam, cuman dia kayaknya yg semangatnya masih nyala. Bensin penuh soalnya.

Dan ketika kami hendak berlalu, si bapak MS yg kemaren keluar dari pintu. Menatap kami dengan raut wajah bertanya-tanya. Ah..sudahlah pak.

Dadah bapak..


Advertisements

One thought on “K3M Chronicles *Minggu Ketiga*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s