RSS

Kejadian Malam Ini (Bagian II)

13 Okt

Part II **

Sial, sial, sial. Kenapa harus kalimat seperti itu. Dasar bocah sial. Gadis itu mengumpat dalam hati. Dia di kamar mandi sekarang. Habis pipis, mau wudhu. Anjing tetangga masih kadang menggonggong. Ayamnya sudah diam. Tukang satenya masih krincing-krincing di jalan. Ya sudah, wudhu saja. Keran sudah dinyalakan. Ih! Airnya dingin, bikin merinding. Merinding sampai tengkuk.

Sial. Ini gara-gara bocah itu.

Ah, cuma air, pikirnya. Atau angin. Bajunya minim, sedangkan pintu kamarnya terbuka lebar. Biar saja, tidak ada yang melihat. Ada yang melihat pun, tidak ada yang bisa dilihat. Atau.. yang melihat tidak terlihat.

Sial. Ini gara-gara bocah itu.

Gadis itu keluar dari kamar mandi menuju kamarnya. Kamarnya di lantai dua. Kamar mandinya juga. Selain dia, tidak ada siapa-siapa. Dia sempatkan melongok ke lantai bawah. Ke ruang tengah tempat biasa orangtuanya menonton televisi bersama adiknya. Mereka tidak di sana. Adiknya juga. Selain dia, tidak ada siapa-siapa. Hanya televisi yang menyala. Dan gonggongan anjing tetangga. Dan suara krincing tukang sate.

Sudah ah, sholat saja. Tutup pintunya, angina dari selatan sudah mulai terlalu dingin. Biarkan sebelah utara saja yang dibuka.

Allahuakbar. Raka’at pertama. Anjing tetangga sudah diam. Jadi sepi. Untung masih ada tukang sate, pikirnya. Sate ayam. Biasanya yang borong anak kos depan rumah. Daerah tempat tinggalnya kini memang banyak anak kos. Banyak pendatang yang rata-rata anak kuliahan.  Beda dengan tempat tinggalnya waktu kecil dulu. Kebanyakan penduduk asli yang pada bikin usaha rumahan. Yang pada buta huruf, tapi penuh rasa kekeluargaan. Ada Mak’e yang buka warung di belakang rumah. Anaknya empat, perempuan semua. Ada Mas Pardi, tukang becak yang sering disuruh ibunya menjemput ke TK. Tapi dia lebih suka pulang jalan kaki sama teman-temannya. Tukang becaknya ditinggal. Lalu ada Mbah Pudjo yang suka bercerita. Cerita tentang siluman yang suka menculik anak-anak lalu dibuat sate. Siluman tukang sate ayam. Pake krincingan.

Astaghfirullah. Raka’at berapa. Kedua. Tukang satenya masih krincing-krincing. Anak kosnya belum keluar. Tenang, tenang. Itu cerita masa kecil. Mana ada tukang sate begituan. Masih krincing krincing. Anak kosnya belum keluar. Tenang, mana ada yang begituan. Cuma cerita, masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Ayo, yakinkan dirimu, pikirnya.

Krincing. Masuk telinga kiri.

Krincing. Keluar telinga kanan.

Krincing. Itu dari belakang.

Deg. Eh?

Dari belakang. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Allahuakbar. Laaillahaillallaaahh..

Krincing. Dari belakang. Krincingg. Degdegdeg. KRINCING. Dari belakang. Degdegdegdegdegdeg. KRINCINGGG!!

DEG! Mata mereka beradu.

Meong..

Kucing.

Fuh..lemas. Ternyata kucing tetangga. Entah tetangga yang mana, yang jelas kucing itu sering datang ke rumahnya. Lumayan, membantu menangkap tikus di sana. Sudah menatapnya, kucing itu enak saja melenggang ke utara. Haduh, sholatnya jadi nggak berguna. Raka’at berapa. Apa sholatnya diulangi saja ya. Ah, baiklah, diulang saja.

Allahuakbar. Raka’at pertama. Btw, kucingnya masuk dari mana ya, kok perginya ke utara.

Deg. Krincinggg..

 

Tentang ophiembahwek

Namaku dibaca opik noviarina. Hanya seorang manusia yang belajar menjalani hidup di jalur-Nya. Dengan sebuah raga yang tiada sempurna dan jiwa yang rapuh di dalamnya. Seorang hamba yang berusaha selalu bersyukur pada Sang Pencipta, walau sering tak semudah bicara. Jadi, inilah aku =) op-noviarina
Leave a comment

Posted by pada Oktober 13, 2010 in Hear me!

 

Kaitkata: , , ,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.