Entah berapa kali sudah saya mendengar cerita semacam ini, nggak selebriti nggak tetangga sendiri, cerita macam ini makin sering saya temui.
Mas Kriwul yang baru putus satu bulan yang lalu sama mBak Kriwil sudah menggandeng wanita lain.
Kepada publik diperkenalkannya sebagai teman biasa, tapi kok perlakuan dan kelakuannya tampak tidak biasa, gitu. Bahkan dari sumringah wajahnya saja sudah kelihatan beda, tapi tetap saja ngakunya nggak ada apa-apa. Lalu nanti, beberapa waktu kemudian, barulah mereka mengaku pada publik bahwa mereka sudah jadi pasangan. Dan si mBak Kriwil paling-paling hanya nangis, misuh-misuh, atau -yang lagi ngetren-menggugat Mas Kriwul melalui pengacaranya.
Ada apa ini sebenarnya ya? Fenomena kayak gini kok seperti sudah tidak asing lagi. Kalau dulu hanya Arjuna yang terkenal pemuja wanita, sekarang sepertinya hampir setiap pria menyandang gelar buaya. Ada saja hal-hal yang dijadikan alasan, mulai dari “Ini kan namanya proses mencari..” atau “Aku kan gak bisa ngatur hati”, bahkan “jangan salahkan cinta, cinta itu anugerah”. Ya iya sih, cinta itu anugerah, tapi kalau kayak gitu yang ada cinta bikin gerah..
Ada beberapa kemungkinan yang terpikir sama saya, kenapa Mas Kriwul bisa “dengan teganya” melakukan hal seperti itu, yang notabene menyakiti hati mBak Kriwil.
1. Mas Kriwul -dan pria-pria sejenis-mungkin termasuk orang yang gampang jatuh cinta. Waktu masih jalan sama mBak Kriwil, matanya memang hanya tertuju pada si mBak saja, tapi begitu didaulat putus dan hatinya terluka, muuatanya itu langsung jelalatan menangkap setiap citra makhluk wanita yang lewat. Lha kalo jaringnya lebar, ya kemungkinan ikan yg tertangkap banyak dong apalagi kalo kebetulan si Mas Kriwul memang nelayan yang hebat..
2. Mas Kriwul mencari pelarian. Bukan narapidana pelarian atau apa, tapi pokoknya seseorang yang bisa dilarikan (halah). Dengan alasan tidak sanggup sendiri, rasanya sepi, rasanya mau mati, dan i-i yang lain lagi, Mas Kriwul-Mas Kriwul itu kemudian pada rame-rame mencari orang yang mau menyayangi kemudian dipacari walaupun tidak sesuai kata hati, alias Mas Kriwul nggak cinta. Pokoknya asal ada yang menemani, memanjakan dan syukur-syukur suka mbayari makan, Mas Kriwul ayok aja. Yang kayak gini ini yang potensial memicu konflik berkepanjangan ketika pada akhirnya si wanita sadar dirinya hanya dimanfaatkan. Ya kalau akhirnya Mas Kriwul jadi benar-benar cinta karena terbiasa, baguslah bagi keduanya, gak tau gimana dengan mantannya ya ha-ha-ha..
3. Mas Kriwul jagoan multitasking. Nha haa..yang ini juga sama menyebalkannya dengan kedua kemungkinan di atas, bahkan mungkin justru yang paling menyebalkan. Multitasking alias nyambi. Sembari jalan dan cinta-cintaan sama mBak Kriwil, si Mas Kriwul diam-diam sudah nyambi mencari target gandengan yang baru. Tapi karena masih ada mBak Kriwil, Mas Kriwul tidak bisa ngapa-ngapa (dan lebih baik tidak ngapa-ngapa dulu). Begitu sudah selesai dengan mBak Kriwil, target yang sudah lama diincar luangsung disamberrr.. bagi mBak Kriwil hal ini mungkin tampak tiba-tiba, tapi tidak bagi Mas Kriwul (dan mungkin juga bagi mBak barunya). Si mBak Kriwil yang mulanya agak bisa terima dengan kandasnya hubungan mereka, bisa jadi bakal meradang kalau mengetahui kenyataan yang sebenarnya karena cepat atau lambat, mBak Kriwil akan menyadari kalau itu adalah “salah satu” alasan Mas Kriwul memecat dirinya dari posisi sebelumnya. Yang terjadi selanjutnya? Tergantung mBak Kriwul mau gimana. Wallahu’alam..
Itu tadi hanya tiga kemungkinan, masih ada kemungkinan2 lain yang saat ini belum terpikir sama saya. Sebagian orang menilai tindakan demikian sebagai logis dan realistis. Bagi saya, perasaan itu juga nyata meski kadang tidak sesuai logika. Manusia diakaruniai akal dan perasaan, tidak adil dong kalau hanya digunakan satu saja dan mengabaikan yang lainnya. Walaupun mungkin si mBak Kriwil sudah tidak cinta, sudah ridho dengan putusnya hubungannya, atau bahkan bertindak selaku pihak yang meminta diakhiri hubungannya, tapi tetap saja perasaan “dilupakan/digantikan secepat itu” mau nggak mau agak nyenggol perasaan juga. Bagaimanapun juga mereka pernah saling cinta, ya to ya to?
Jika ada yang menganggap tulisan ini terlalu memojokkan pria dan membela wanita, saya mohon maaf, ini hanya opini saya saja. Kalau ada pria-pria yang merasa ” tidak satu keluarga” dengan Mas Kriwul, saya percaya kok.. Bukankah Anda yang lebih mengenal diri Anda? Tinggal mau jujur apa tidak, itu saja masalahnya 