Life is Boring

6 03 2009

Inspired by a friend’s complaint about “why should life has its boring moments”, I remember reading about it somewhere and I just feel like writing it for her in my own understanding :P

Boredom is unavoidable

(:|

Not even today when your cell phone connects you not only by a distant conversation; nor when you consider your real life is not the exam coming ahead but the virtual-purple-feathered-pet-skipping-the-rope on your notebook’s LCD :- Sometimes you’re tired of doing the same thing everyday, tired of feeling the same way every time, or tired of just being yourself in every single breath. But hey..congratulation for being bored! It means you’ve passed the stage of living merely to survive..

Beside,

We are most human when we feel dull

Boredom gives us time to re-think of our life, whether we’re on the right track or slip it out unrealized. Did we crave for something really meant to be? Or we just go afford for it because we used to?

To be bored is to stop reacting to the external world and exploring the internal ones

You might get startled by what your mind discovers while it dives  into your bored-self. Maybe it’s something big, or just a small detail you didn’t realize before, but it sure brings a new way of thinking for yourself–or a tickle in your stomach ;))

Boredom is not about getting new stuffs to replace the old ones, it’s about the new point of view

Well, some people maybe just get stuck and jump out the boring time with the same nothingness it came, but is it really nothing? Being bored doesn’t mean you failed your life. I agree that boredom is one of the essential human emotion necessary for life. It is the time for the invention of new paradigms, human crafts, love, everything..

All of us, my dear friend, has been in the state of boredom. And to me, it’s one of the moments in my life when I appreciate myself more and feel grateful for the pain I carry around inside of me:)

So, enjoy you boredom while you can still have it for free

<:-P

**Paraphrased from..umh..Ways To Live Forever?? Or..Reader’s Digest?? Or A Cup of Comfort for Friends?? Oh well, whatever**

PS: This writing doesn’t legal any laziness or aversion for accomplishing any task necessary for the continuity of life and career. It is simply a regard for the state or boredom and an enlightenment trial for a friend

:)>-





A quote from a friend..

25 02 2009

It’s amazing when strangers become friends..
But it’s sad when friends become strangers..





Multitasking?

3 02 2009

Entah berapa kali sudah saya mendengar cerita semacam ini, nggak selebriti nggak tetangga sendiri, cerita macam ini makin sering saya temui.

Mas Kriwul yang baru putus satu bulan yang lalu sama mBak Kriwil sudah menggandeng wanita lain.

Kepada publik diperkenalkannya sebagai teman biasa, tapi kok perlakuan dan kelakuannya tampak tidak biasa, gitu. Bahkan dari sumringah wajahnya saja sudah kelihatan beda, tapi tetap saja ngakunya nggak ada apa-apa. Lalu nanti, beberapa waktu kemudian, barulah mereka mengaku pada publik bahwa mereka sudah jadi pasangan. Dan si mBak Kriwil paling-paling hanya nangis, misuh-misuh, atau -yang lagi ngetren-menggugat Mas Kriwul melalui pengacaranya.

Ada apa ini sebenarnya ya? Fenomena kayak gini kok seperti sudah tidak asing lagi. Kalau dulu hanya Arjuna yang terkenal pemuja wanita, sekarang sepertinya hampir setiap pria menyandang gelar buaya. Ada saja hal-hal yang dijadikan alasan, mulai dari “Ini kan namanya proses mencari..” atau “Aku kan gak bisa ngatur hati”, bahkan “jangan salahkan cinta, cinta itu anugerah”. Ya iya sih, cinta itu anugerah, tapi kalau kayak gitu yang ada cinta bikin gerah..

Ada beberapa kemungkinan yang terpikir sama saya, kenapa Mas Kriwul bisa “dengan teganya” melakukan hal seperti itu, yang notabene menyakiti hati mBak Kriwil.

1.       Mas Kriwul -dan pria-pria sejenis-mungkin termasuk orang yang gampang jatuh cinta. Waktu masih jalan sama mBak Kriwil, matanya memang hanya tertuju pada si mBak saja, tapi begitu didaulat putus dan hatinya terluka, muuatanya itu langsung jelalatan menangkap setiap citra makhluk wanita yang lewat. Lha kalo jaringnya lebar, ya kemungkinan ikan yg tertangkap banyak dong apalagi kalo kebetulan si Mas Kriwul memang nelayan yang hebat..

2.       Mas Kriwul mencari pelarian. Bukan narapidana pelarian atau apa, tapi pokoknya seseorang yang bisa dilarikan (halah). Dengan alasan tidak sanggup sendiri, rasanya sepi, rasanya mau mati, dan i-i yang lain lagi, Mas Kriwul-Mas Kriwul itu kemudian pada rame-rame mencari orang yang mau menyayangi kemudian dipacari walaupun tidak sesuai kata hati, alias Mas Kriwul nggak cinta. Pokoknya asal ada yang menemani, memanjakan dan syukur-syukur suka mbayari makan, Mas Kriwul ayok aja. Yang kayak gini ini yang potensial memicu konflik berkepanjangan ketika pada akhirnya si wanita sadar dirinya hanya dimanfaatkan. Ya kalau akhirnya Mas Kriwul jadi benar-benar cinta karena terbiasa, baguslah bagi keduanya, gak tau gimana dengan mantannya ya ha-ha-ha..

3.       Mas Kriwul jagoan multitasking. Nha haa..yang ini juga sama menyebalkannya dengan kedua kemungkinan di atas, bahkan mungkin justru yang paling menyebalkan. Multitasking alias nyambi. Sembari jalan dan cinta-cintaan sama mBak Kriwil, si Mas Kriwul diam-diam sudah nyambi mencari target gandengan yang baru. Tapi karena masih ada mBak Kriwil, Mas Kriwul tidak bisa ngapa-ngapa (dan lebih baik tidak ngapa-ngapa dulu). Begitu sudah selesai dengan mBak Kriwil, target yang sudah lama diincar luangsung disamberrr.. bagi mBak Kriwil hal ini mungkin tampak tiba-tiba, tapi tidak bagi Mas Kriwul (dan mungkin juga bagi mBak barunya). Si mBak Kriwil yang mulanya agak bisa terima dengan kandasnya hubungan mereka, bisa jadi bakal meradang kalau mengetahui kenyataan yang sebenarnya karena cepat atau lambat, mBak Kriwil akan menyadari kalau itu adalah “salah satu” alasan Mas Kriwul memecat dirinya dari posisi sebelumnya. Yang terjadi selanjutnya? Tergantung mBak Kriwul mau gimana. Wallahu’alam..

Itu tadi hanya tiga kemungkinan, masih ada kemungkinan2 lain yang saat ini belum terpikir sama saya. Sebagian orang menilai tindakan demikian sebagai logis dan realistis. Bagi saya, perasaan itu juga nyata meski kadang tidak sesuai logika. Manusia diakaruniai akal dan perasaan, tidak adil dong kalau hanya digunakan satu saja dan mengabaikan yang lainnya. Walaupun mungkin si mBak Kriwil sudah tidak cinta, sudah ridho dengan putusnya hubungannya, atau bahkan bertindak selaku pihak yang meminta diakhiri hubungannya, tapi tetap saja perasaan “dilupakan/digantikan secepat itu” mau nggak mau agak nyenggol perasaan juga. Bagaimanapun juga mereka pernah saling cinta, ya to ya to?

Jika ada yang menganggap tulisan ini terlalu memojokkan pria dan membela wanita, saya mohon maaf, ini hanya opini saya saja. Kalau ada pria-pria yang merasa ” tidak satu keluarga” dengan Mas Kriwul, saya percaya kok.. Bukankah Anda yang lebih mengenal diri Anda? Tinggal mau jujur apa tidak, itu saja masalahnya )>-





One Step Closer

18 12 2008

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.. x

I know I can only say Alhamdulillah..

Tadi sore op barusan menyelesaikan sebuah tugas TERAKHIR dari stase terakhir koas op. Yaa, not officially the last sih, tapi gimana ya? Tadi sore tu rasanya LEGA BANGET setelah presentasi. Mungkin karena sebelum presentasi, op gugup setengah idup kali ya? Yang miskom sama pengurus Yandu Lansia lah, yang tiba2 Prof nongol lah.. tapi ada juga perasaan

HEI, INI PRESENTASI TERAKHIRMU SEBAGAI KOASS, OP!!

:D

Uugh..bener2 lega deh! Apalagi setelah presentasi, dosen op bilang

” KELOMPOK KALIAN TIDAK PERLU UJIAN. “

Yeeeeeiiiiiyy!! Apa lagi sih yang bisa bikin seorang pelajar melonjak kegirangan kalo bukan bebas-dari-ujian? Op bener2 bersyukur. Gak tau lagi deh dikasi nilai apa.Yang penting masa ketegangan itu dah terlewati -”/> .

FYI only, stase Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM)  ini adalah stase terakhir dari kegiatan kepaniteraan klinik (alias koass) yang udah op jalani selama 1,5 tahun. Dan selama itu pula op berkutat dengan berbagai tetek bengek per-koass-an yang seolah gak ada akhirnya. Penyesuaian demi penyesuaian setiap kali masuk ke stase baru, ngurus nilai yang-gak-kayak-waktu-S1-dulu, jadwal kerja dan libur yang-gak-kayak-waktu-S1-dulu, sikap dosen yang-gak-kayak-waktu-S1-dulu. Pokoknya serba gitu deh! hiperbolis yak?

I’m not a perfect student. I’m afraid I can never be one. Good doctor ? Not yet. I’m not ready to face what I have to face. But I know, I’ve been through all those hard times. And I am one step closer .

Hahaha,. not a good writing eh? I dunno.. I just feel like sharing it. It’s my happy day .

Walaupun sebenernya op masih punya tanggungan ngurus nilai yg belum pada keluar sih

I keep my fingers crossed





Itu Bukan Suara Aku Kalee..!

17 12 2008

Dalam dua hari terakhir ini, saya mendapat sebuah pertanyaan dari 4 orang yang berbeda. Sebuah pertanyaan yang dikemas dalam kalimat yang berbeda tapi intinya sama

Kok suara aku di rekaman sama ngomong langsung gini beda yak?

Yang biasanya dijawab lawan bicara dengan

Ah enggak, sama aja tuh..

Lalu mereka menoleh pada saya dengan mata yang berbinar-binar penuh harap.

Lalu saya ambil napas..

..saya tahan

..lalu mengejan sekuat tenaga! Yak! Bagus bu, bayinya perempuaan!

Plak!

Lalu saya ditempeleng karena ngelantur

Oke, sekarang beneran.

Ehm.. (dehem dulu biar kayak anggota DPR)

Begini teman-teman..

Ini adalah salah satu pertanyaan klasik mengenai tubuh kita. Fenomena “menyangkal suara sendiri” yang didengar melalui media perekam sebenarnya sudah sejak lama terjadi, jauh sebelum kasusnya Artalyta sama Jaksa Urip =B dan itu terjadi di mana-mana, di seluruh belahan dunia. Banyak ahli antropologi yang melaporkan tentang hal ini. Biasanya sih gara2 mereka bawa2 tape recorder ke berbagai belahan dunia untuk analisis-analisis linguistic mereka, nha pas mendengarkan ulang, mereka kaget aja gitu denger suara mereka sendiri di tape recorder.

dengerin woi!

dengerin woi!

Sebenarnya, ada penjelasan yang cukup sederhana untuk gejala aneh ini. Menurut Dr. Nelson Vaughan, seorang ahli terapi wicara, instruktur diksi dan pelatih suara di Hollywood, suara kita sendiri yang kita dengar saat bicara, bukan hanya didengar menggunakan telinga saja, tapi juga didengar “pancaran”-nya melalui organ2 dan cairan2 dalam tubuh kita. Jelasnya begini, suara terbentuk ketika ada udara dari paru-paru yang dihembuskan keluar dan menggetarkan pita suara di laring (tenggorokan). Dari sana, gelombang suara tersebut dikeluarkan lewat mulut dan dihantarkan pada telinga pendengarnya melalui UDARA. Inilah suara yang didengar oleh orang lain..dan juga yang ditangkap tape recorder. Telinga kita juga menangkap getaran suara tersebut, akan tetapi, kita juga menangkap getaran suara yang diteruskan melalui CAIRAN dan benda-benda PADAT lain dalam kepala kita, misalnya tulang tengkorak. Jadi, suara yang kita dengar sendiri tidak hanya dihantarkan oleh udara. Mulai dari laring aja udah banyak jaringan lunak yang dilewati, belum lagi di telinga. Asal tau aja, telinga kita itu terdiri dari 3 bagian: luar, tengah, dalam. Telinga luar tu mulai dari daun telinga sampai terowongan yang biasa dikurek2 itu. Telinga tengah tu isinya udara sama tulang2 pendengaran yang ukurannya super mini, sedangkan telinga dalam tu berisi cairan yang nyambung ke saraf pendengaran. Telinga tengah dan telinga dalam itu letaknya udah di dalam tengkorak, di ruangan2 gitu. Jadi perjalanan si bunyi dari laring sampe ke telinga sendiri udah melewati berbagai medium, padahal kan rambatan bunyi bakal berbeda kalau melalui medium yang berbeda, ya to? Makanya wajar aja kalo ada variasi nada yang didenger oleh si pembuat suara sama orang laen, gitu..

….

Jadi kalo gitu, sebenernya yang mana yang suara asli kita??

Ya dua-duanya! Wong sama2 kok asalnya..tergantung siapa pendengarnya kan?

Everybody should have his personal sounds to listen for – sounds that will make him exhilarated and alive or quite and calm…. One of the greatest sounds of them all – and to me it is a sound – is utter, complete silence.  ~Andre Kostelanetz





Dried Up

12 12 2008

dried-up

1.wrinkled or cracked from drying

2. having its water supply exhausted

Mau tau gimana caranya mengeringkan manusia dalam waktu satu malem?

Mau tau olahraga yang cukup menguras energi dan mengencangkan otot? Gak perlu dilakukan di Gym. Gak ngeluarin banyak keringet jugak, tapi abis itu lemes. Kering. Semuanya keluar. Mengalir. Menguap.

..

Hoo..jangan ngeres dulu..

..

Saat kamu ngerasa berada pada suatu titik di paling bawah. Waktu semuanya kerasa gelap aja yang ada. U wanna reach out for someone, but no one’s around. Not even the person who promised to always be there..

U can only cry

Push your lacrimal gland to it’s maximum capacity, force them 2flood out everything they got. Crunching it till it hurts. Weep out and scream. A screaming only ghost could hear. U let the emotion u keep inside blows out. No frontier. U dance with the devil and cry. Cry. Cry. And Cry. Till u dried up. Body n soul.

U can only pray

For a magical fairy to come n pour her light-powder to heal you. Or an angel to tucked u back to the warmth of the dreams.

But u don’t pray for the sun to rise earlier. Because the sun itself hurting u..

The sun dried you up. Cracked and fragile.

And trust me, for you who craves for flat belly but hates doing sit-up, u should give it a try. Do it all night long, and u’ll wake up like u have done 1500 times sit-ups! But well, some side events may occur :B swollen eyes, lethargy, dizziness, and dirty look from everyone u meet the next morning hhahahaha!!

dried-updried-up





Rectoverso dan Adikku

11 12 2008

Hoho.. I love this book..

Belum slese baca sih, tapi op bersyukur banget udah beli buku ini. Bukan karena isinya yang–op yakin–bagus.Bukan karena lagi booming jugak..

rectoverso

Lha jadi kenapa?

Karena.. d’Rizka mau baca buku ini!!YAAAYYY…plok plok plok plok!!

…..

D’Rizka siapa sih?

D’Rizka tu adeknya op yang paling kecil. Nha d’Rizka ini luar biasa. Luar biasa males lebih tepatnya. Luar biasa males baca lebih persisnya. Jangankan buku pelajaran *tapi ya kalo itu sih, op maklum hehe*, koran pun gak dia baca. Buku bacaan populer aja gak dia sentuh. Novel, cerpen, prosa, bahkan komik sekalipun, jauh deh! Dilirik aja enggak. Bahkan saking malesnya baca, dia tu gak tau nama gang tempet rumah temennya yang udah sering banget dia satroni dari jaman SD masih ngompol sampe udah akil baligh sekarang ini. Padahal rumah temennya itu di ujung gang yang ada tulisan nama gangnya. Kebangetan gak sih?! *ato kakaknya yg hiperbolis ya?hehe..* Op jadi curiga, jangan-jangan kalo dia jajan yang disebut bukan mereknya ya, tapi warna bungkusnya “Itu buk..beli biskuit yang bungkusnya warna biru putih!!Yang sebelahnya kerupuk warna ijoo..” *hoho, hiperbolis lagi, maap adeek..*

Satu-satunya komik yang pernah dia baca tu ya, cuman Ghost Sweeper Mikami sama Pank-Ponk *eh,..brarti bukan satu-satunya yak?*. Komik terbitan jaman kapan pula itu.. Dah gitu, dia baru mulai nyentuh komik itu pas dia kelas 3 SMP (skarang dy klas 2 SMA) itupun skarang dah gak baca lagi T.T bee..sedih banget yah, adek op yang satu ini? Umur segitu mah op dah hampir khatam semua novelnya Agatha Christie, Danielle Steele, dsb *jiah nyombong..*. OYa, tapi ada ding yang rajin dia baca, yaitu..SMS. Rajin banget dia kalo SMS-an, ato M-Xit samting apa itu. Nulisnya aja pake huruf gede-kecil dan ejaan yang sama sekali gak ada dalam kaidah bahasa Indonesia. Haduh pusing tenan anak jaman sekarang..

Biasanya op kalo abis beli buku nawarin dia, tapi biasanya cuman diliet judulnya sambil komentar “Gak minat. Ceritain aja lah!Tapi jangan panjang2 ya, tar aku ketiduran..” Ato “Sampulnya warnanya lucu” ato “Ih, gambar apaan sih tu?” yang menandakan kalo bagi dia, buku tu gak penting ada tulisannya ato gak, asal ada sampulnya, udah. Tapi kali ini, pas op tawarin Rectoverso, dia gak nolak!! Mungkin karena banyak fotonya kali ya.. Ato karna ada lagunya juga? Entah, yang penting op bahagia dia mau baca. Titik. Makanya op bela-belain nunda baca bukunya hoho.. Jadi review isinya tar aja ya abis d’Rizka baca ^^





New Look

11 12 2008

wew..wew!!
Sejak kapan yak, tampilan wordpess brubah?
Jadi lebih enak gini ^^
Senang..





Gara-gara..

14 11 2008

Hari ini, Jum’at 14 November 2008, akhirnya berakhir juga stase K3M selama 6 minggu di Kulonprogo. Ujiannya tertulis dengan soal yang jawabannya wualah panjang-panjangnyaaa.. Teman-teman sekelompok selesai lebih dulu daripada saya, dengan kata lain, saya ketinggalan. Lagi. Seperti biasa.

Entah apa sebenernya yang bikin saya ini selalu selesai belakangan, dalam hal apapun. Contoh ini ya: makan, mandi, berangkat ke Puskesmas, ngerjain laporan, bahkan pake sepatu. Padahal sepatu saya tu sepatu wanita yang tinggal nyelipin kaki doang udah jadi lho! Kurang apa coba? Masih banyak contoh  lain sih sebenernya, tapi itu aja udah cukup bikin saya senewen. Cuman satu hal yang saya gak bakal ketinggalan dari mereka: NGOMONG alias bicara. Kata mereka, kecepatan bicara saya lightspeed, Pentium 17 *mana ada pentium segitu*. Menurut saya, kecepatan bicara saya normal-normal saja, tapi kenapa banyak yang bilang omongan saya kecepetan ya? Saya jadi mikir, jangan-jangan otak saya cuman hafal gimana caranya bicara, aktivitas lainnya harus open book, jadinya lama. Heuh..sedih.

Nha gara-gara keleletan itu, saya jadi sering terlambat datang ke acara-acara penting. Ke acara gak penting juga. Bukan cuma sekali saya dipelototi oleh orang yang janjian ketemuan sama saya, janjian jam 9 datengnya jam 11. Haduh haduuh.. Pernah juga temen sekelompok Koas saya ngambek gara-gara saya telat datang selama hampir satu jam, padahal hari itu kelompok kami ujian dan ujiannya terpaksa molor gara-gara saya kelupaan jadwal dan kelamaan mandi T.T gak elit banget ya? Wajar aja mereka ngamuk.

Teman-teman bilang saya suka telat. Gak bener juga sih, saya memang sering telat, tapi saya  tidak menyukainya. Saya bukannya tidak berusaha mengubah kebiasaan buruk itu lho, tapi kok ya, yang namanya BERUBAH JADI POSITIF itu susah banget ya? Teorinya udah tau, tapi implementasinya gak pernah beres. Ya pernah sih sebenernya, tapi sekali dua kali aja. Ujian hari ini termasuk salah satu yang berhasil *ciee*, sampai-sampai teman saya ada yang komentar “Eh, Op datang on time lho! Mau ujan pa ya?” Wualaah! Gondoknya saya. Tapi apa mau dikata, saya cuma bisa nyengir aja.

Dan ternyata siangnya beneran ujan deres, untung gak pake puting beliung segala. Belum lama ini kan kampus saya porak poranda dihajar si beliung tadi itu *mau bilang si pu*ing gak enak kedengerannya hehe..Bisa kena undang-undang saya*. Walaupun hujannya kebetulan semata, *ini musim hujan bung!* saya jadi mikir lagi, kalo setiap kali saya on time bisa ujan deres, saya jadi duta hujan keliling dunia aja pa ya? Lumayan, membantu penghijauan kembali alias reboisasi hehe..


Yah sudahlah, berhubung tulisannya udah makin nggantung, itu pertanda bahwa saya mulai linglung. Daripada semua bingung, lain kali saja kita sambung *hohoho, sok berpantun*.





K3M Chronicles *Minggu Ketiga*

27 10 2008

Banyaknya cerita K3M yang belum sempet op tulis. Tiba2 aja dah separo jalan..

Sore ini, op sama owi pergi berdua menjelajah desa tetangga. Mau kunjungan rumah ke pasien..biasa lah, tugas. Berangkat dari pondokan naik Shogun item op. Udah jam setengah lima tuh, padahal rencana jalan jam tiga, tapi op sama owi-partner op, ciee-malah ketiduran T.T yasudah. Berangkat dari pondokan udah rapi, wangi abis mandi, dan semangat 45 mbawa semua alat tempur yang kira2 bakal berguna-stetoskop, pen light, tensimeter buat mriksa, mantel ponco buat jaga2 kalo ujan, sama tas plastik buat jaga2 kalo suguhannya gak abis nanti.

Dengan mantap kami menyusuri jalan aspal yang diapit sawah di kanan kiri. Jalannya gak alus2 amat, tapi datar. Apalagi, udara sore yang seger bikin kami makin semangat mengunjungi rumah pasien kami. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu-sekitar 5 menit =B -akhirnya tibalah kami di sebuah warung, kami pun  berhenti. Bukan, bukan seperti pengembara yang berhenti karena kehausan, bukan juga karena kami telah sampai di tujuan, tapi karena..kami nyasar T.T Maklum, sebelumnya kami lupa gak nanya detail alamat pasien kami tersebut, padahal taulah..alamat di desa, gak ada urutan yang jelas. Maka, jadilah kami berputar-putar. Bahkan setelah si empunya warung ngasi tau jalan yang harus kami ambil pun, kami tetep aja bingung, karena kata2 yang bisa kami tangkap hanyalah “jalan naik..gapura..gardu..kuburan..tanya lagi..kanan..kiri..” selebihnya berupa rentetan suara cempreng yang diteriakkan tepat di depan muka kami *piss bu..*.

Ketika akhirnya kami berhasil melepaskan diri dari ibu pemilik warung, hari sudah semakin sore. Burung-burung mulai terbang kembali ke sarangnya, kami pun sudah kembali terbang di atas motor Shogun hitam. Kali ini jalanan menanjak. Di kanan kiri tampak tanah kapur berwarna kuning dengan pohon-pohon jati yang meranggas tersebar di beberapa petak tanah. Rumah-rumah penduduk terletak saling berjauhan satu sama lain. Beberapa sudah dibangun dengan tembok yang bagus, namun banyak juga yang masih berdinding anyaman bambu. Dan sementara itu, bayang-bayang senja mulai turun menyelimuti desa *ceh, bahasanya*. Batu-batu kapur besar dan ilalang kering membuat kami agak merinding, tapi karena tekad sudah bulat, apapun diembat.

Tidak berapa lama, kami menemukan gardu poskamling beratap merah yang dimaksud si ibu *kira2 sebenernya*, berarti kami sampai di tujuan. Kami ketok pintu rumah di belakang gardu, bukan di gardunya, karena pasien kami tinggalnya di rumah belakang gardu, bukan di gardunya *halah*. Muncul seorang lelaki separuh buaya eh, separuh baya, dengan raut wajah bertanya-tanya padahal kami baru mau tanya.

“Permisi pak, betul ini rumah bapak M. S?” tanya op sopan *ehm..berusaha sopan lebih tepatnya*.

Si bapak mengangguk. Masi dengan raut bertanya-tanya. Jadi op tanya lagi “Apa betul bapak punya putra bernama P yang sekolah di SD C?”

Alis si bapak berkerut. Kali ini dia menggeleng. Tapi masih dengan raut bertanya-tanya. Jadi op tanya lagi “..kalau cucu..?”

Si bapak menggeleng lagi. Raut mukanya makin bertanya-tanya, tapi bapaknya tetep gak nanya apa-apa.

Kali ini alis op yang berkerut. Dan raut muka op yang bertanya-tanya. Jadi ganti si bapak yang tanya “Mbaknya siapa ya?”

Gubrak! Oiya, kami lupa belum memperkenalkan diri.. pantes aja bapaknya bingung. Tapi ternyata, setelah kami memperkenalkan diri pun, bapaknya tetep gak punya anak atau cucu yang kami maksud tadi. Jadi kami merasa agak sia-sia memperkenalkan diri *loh?*. Yah, intinya : rumah yang kami datangi ini bener punya bapak MS, tapi bukan bapak MS yang kami maksud. Jadi kami pun undur diri. Sambil dalam hati ndongkol dan nggerundel pada bapaknya. Kok ya gak punya anak ato cucu yang kami cari!

Sedikit patah arang, tapi kami sambung lagi. Mungkin kami salah catat alamat. Dalam catetan kami tertulis DUSUN IV, tapi siapa tau yang bener DUSUN VI. Jadi kami pun melayang ke dusun sebelah. Dengan penuh semangat, motor kami pacu, sementara itu langit udah makin gelap. Kami mulai ngerasa agak gak nyaman. Sebelum berangkat tadi kami udah sepakat, begitu magrib kami udah harus pamitan. Soalnya daerah yang kami tuju emang agak ‘rawan’. Kami bener-bener salah perhitungan.

Di tengah perjalanan, kami ketemu sama seorang bapak yang lagi momong anak kecil. Kami berhenti untuk nanya. Sambil setengah berharap itu adalah bapak MS dan dek P yang kami cari *Haha, gak mungkin*. Berdasarkan penuturan si bapak, kami sudah memasuki kawasan dusun VI yang kami tuju.

Dan ternyata, beliau adalah bapak MS yang kami cari!!

….

Bukan, yang terakhir itu khayalan -.-”

Tapi setidaknya, kami sudah memasuki dusun yang benar. Sayangnya, si bapak gak tau yang namanya bapak MS. Yasudah, kami mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanan. Di sebuah pertigaan, kami ragu-ragu, mo terus apa balik. Udah gelap sekarang, dan kami belum solat magrib. Lalu seorang pemuda lewat dan ngeliat kami kebingungan. Kami agak takut, muka masnya agak gimana gitu soalnya. Mana tau2 dia dateng nyamperin kami lagi!

“Nyasar ya mbak? Hehe..” ternyata giginya ompong depan.

Kami Cuma bisa nelen ludah. Cleguk.

“Nyari rumah siapa sih? Kok dari tadi celingukan.”, tanyanya lagi.

Akhirnya owi yang ngomong, “anu mas..kami nyari rumah bapak MS, dusun VI. Dimana ya?”

“oohh..mas MS..”, katanya sambil manggut-mangut, “..kalo dia sih rumahnya jalan ini naik teruuuuuss..ada belokan naik teruuuss..sampe ataaas..ada pertigaan ke kanan. Nha udah, di sekitar situ tanya aja”. Dia nyengir lagi. Ompongnya ada dua.

Kami berterima kasih lalu cepet2 pergi. Balik ke pondokan. Lanjutin besok lagi. Masnya dadah dadah..

Hufh..setidaknya masih ada harapan menemukan cinta yang hilang, halah, maksudnya harapan menemukan rumah bapak MS yang sebenarnya. Semangat kami belum padam. Merdeka!!

Siang berikutnya, abis dari puskesmas, kami langsung tancap gas ke pertigaan yang kemaren. Terus ngikuti jalan sesuai petunjuk mas-mas itu. Jalanan makin nanjak, untungnya udah aspal. Motor Shogun op menderu-deru berusaha menaklukkan gunung kapur itu, membawa dua beban di punggungnya. Kami masih tetap dengan peralatan perang kami dan semangat tempur kami. Di depan mata hanya tampak jalan aspal yang mendaki. Lalu tiba-tiba, pandangan kami bebas. Kami sudah mencapai puncak. Berarti sedikit lagi.. kami mulai mencari2 orang untuk ditanyai. Lalu tampaklah sebuah gardu poskamling. Atapnya merah.

Loh loh loh!! Itu kan gardu yang kemaren! Pemandangan di sekitarnya juga yang kemaren, rumah-rumahnya juga yang kemaren! Bedanya sekarang siang. Loh piye to?! Op berpandang2an sama owi. Tapi gak mesra. Otak kami berputar. Keterangan demi keterangan menyambung, peta geografis daerah sekitar pun terhubung.

Glondhang!!

Kami pun paham. Ternyata kami hanya memutari gunung yang sama. Orang yang dimaksud pun orang yang sama. Hanya saja, jalan yang kami tempuh berbeda. Oh noooo… seketika asa kami menguap. Pupus sudah harapan kami. Kami terduduk lemas, gondok banget rasanya. Tapi geli juga. Kok ya bisa.. Kami cuman bisa ngikik2 gak jelas gitu aja berdua. Yaudah akhirnya kami nyerah, kami pulang, tanpa dendam *lha malah nyanyi*. Perlahan2 kami naiki kembali Shogun hitam, cuman dia kayaknya yg semangatnya masih nyala. Bensin penuh soalnya.

Dan ketika kami hendak berlalu, si bapak MS yg kemaren keluar dari pintu. Menatap kami dengan raut wajah bertanya-tanya. Ah..sudahlah pak.

Dadah bapak..